Wanita

October 18th, 2008

Jangan lagi menyembunyikan potensi Anda di balik layar. Sebab, sekarang adalah saat yang tepat bagi wanita untuk tampil ke depan dan menjadi seorang pemimpin.

KELUAR DARI ZONA NYAMAN

Menurut Lois P. Frankel, Ph.D., seorang konsultan karier serta penulis sejumlah buku bestseller tentang pengembangan karier hal terpenting yang perlu dilakukan wanita agar dapat mengekspos potensi diri adalah dengan berani meninggalkan zona nyaman. “Konsekuensi menjadi seorang pemimpin adalah Anda harus berani melakukan hal-hal yang tidak nyaman. Misalnya, membuat peraturan yang kurang populer, tampil di depan orang banyak, bergaul dengan kenalan baru, serta melakukan sejumlah tugas yang belum pernah ditangani sebelumnya,” ujar Frankel.

Menghadapi generasi dengan pola pikir maju tersebut, dunia membutuhkan pemimpin yang mampu bernegosiasi dan memiliki ke-cerdasan emosi. Pola kepemimpinan top down (dari atasan ke bawahan) yang berciri maskulin sudah tidak laku lagi dan digantikan dengan pola kepemimpinan bottom up (dari bawahan ke atasan) yang bergaya feminin.

Sebagai bukti, coba sebutkan sosok wanita pemimpin yang Anda idolakan saat ini.Fotografer Annie Leibovitz  dan Adek Bery, bos Anda di kantor, atau bahkan ibu Anda sendiri? Siapa pun orangnya, mereka pasti memiliki kualitas kepribadian serupa yang Anda kagumi. Antara lain, mampu menjadi pendengar yang baik, dapat mewadahi ide anak buah, kreatif, berani dan sebagainya. Anda tentu tidak mau lagi dipimpin oleh atasan berwajah ‘dingin’ yang suka menindas dan semena-mena dalam memberikan tugas, bukan?

TERIMAKASIH TUHAN, KAU PERKENALKANKU DENGANNYA…

October 18th, 2008

Dia yang ajarkan aku untuk membungkus impian dengan target.

Dia yang membuka cakrawala pikiranku tentang dunia.

Dia yang membuatku selalu berkata “Ya, aku bisa” pada setiap kesulitan.

Dia yang pantas untuk berbicara dengan sombong tentang kesusahan dan keberhasilannya menjalani hidup.

Dia yang cerdas, tapi begitu sederhana.

Dia yang hidupkan apiku yang hamper padam.

Dia yang tak mungkin ku harap, tak mungkin pula ku ungkap.

“Mungkin dia paham, hingga mungkin dia menjauh.

Tapi bukan itu maksudku, mengganggunya dengan rasaku.

Hanya tak ingin, karnaku dia kembali ke masa lalu.

Bahagialah!!!karena dengan itu akupun bahagia.

Walaupun dibalik sakitku, tapi :

Terimakasihku, untukmu.”.

Terimakasih Tuhan, Kau perkenalkanku dengannya.

Fotografi

October 18th, 2008

Mencermati Foto”Human Interest”

Foto human interest hingga kini masih menjadi karya terfavorit di kalangan fotografi. Pasalnya, foto human interest selain mengandung nilai-nilai kemanusiaan, sentuhan khas dari sang fotografi membuat setiap karyanya menjadi unik. Namun sentuhan khas ini bukanlah keahlian yang dapat dipelajari tapi satu kelebihan yang sebenarnya sudah ada pada setiap fotografer atau terkadang disebut sebagai bakat. Memang perlu waktu untuk mengenalnya, mengasah dan memantapkannya dalam satu proses seni penciptaan.

Meski begitu bukan berarti seorang fotografer pemula menjadi pesimis. Sebab bila kita bersedia melihat dengan mata hati kita, mempertajam intuisi dan kepekaan terhadap dunia sekeliling kita, dan mengikuti dorongan naluri seni yang mengalir bebas tanpa beban, setiap orang dari kita akan mampu menciptakan karya foto yang kental dengan sentuhan pribadi si pencipta.

Proses penciptaan karya foto selalu dimulai dengan interaksi yang akrab antara Anda dengan subjek foto, apakah itu manusia, keindahan pemandangan ataupun keajaiban alam. Dari komunikasi pribadi ini kemudian muncul umpan balik berupa emosi yang menjadi stimulan kreatif untuk menciptakan foto yang dapat menangkap “jiwa” dari apa yang kita lihat dan alami. Inilah proses untuk menemukan karya cipta individu yang khas yang menjadi ekspresi pribadi yang kuat dari setiap fotografer.

Manusia dan segala kehidupannya menurut pakar fotografi, Deniek G. Sukarya selalu menarik untuk dijadikan objek foto. Lebih-lebih lagi dalam moment yang menyentuh. Sebagian besar dari kita memiliki resistensi tinggi yang diakibatkan oleh rasa malu, sungkan atau takut mengarahkan kamera ke manusia lain. Ada banyak cara dan teknik untuk mengatasinya agar kita dapat membuat foto-foto human interest yang menarik.

Cara terbaik membuat foto-foto manusia adalah dengan pendekatan pribadi yang tulus, melalui senyum, percakapan dan interaksi lain untuk menciptakan keakraban dan rasa nyaman.

Ketika sudah merasa diterima, barulah utarakan keinginan Anda membuat foto mereka. Jika sudah demikian Anda hampir tidak pernah menemukan lagi orang yang menolak, bahkan ketika Anda minta mereka berpose, merubah posisi, senyum atau melakukan kegiatan yang sedang mereka lakukan.

Pakailah lensa normal 50 mm atau sudut lebar 24-28 mm karena dapat menciptakan foto-foto yang lebih akrab yang seolah membawa kita ke tengah mereka.

Dengan lensa sudut lebar kita dapat merekam mereka dengan dunia sekeliling yang dapat memberikan identifikasi tentang mereka.

Namun bukan berarti tele (100-200 mm, atau bahkan 300 mm) tidak punya tempat pada foto human interest seperti ketika kita secara fisik tidak dapat mendekat untuk mengambil foto close up atau dalam menghadapi subjek yang sangat malu kamera.

Pada pemotretan human interest yang sangat dinamis, program otomatis dan otofokus akan membantu Anda mendapatkan foto-foto yang baik dengan lebih pasti.

Salah satu faktor sukses terpenting dalam pemotretan human interest adalah kemampuan si fotografer mencairkan suasana dan membaur dengan lingkungan yang akan difotonya. Untuk itu kita perlu datang ke tengah-tengah mereka dengan maksud melihat-lihat saja dan bercakap-cakap. Anda perlu banyak mengajukan pertanyaan yang relevan.

Bila di pasar, menanyakan harga, penjualan, untung mereka, situasi sekarang, dan lain-lain hingga mereka merasa nyaman. Ketika suasana sudah cair, baru kita mulai mengangkat kamera sambil melihat subjek yang ingin dibidik dan senyum.

Teknik tersebut memungkinkan Anda akan selalu berhasil merekam foto-foto human interest yang hidup dan yang tak kalah pentingnya membuat banyak teman. Tentu saja agar Anda biasa bekerja dengan cepat, Anda harus mempersiapkan kamera Anda sebelumnya.

Di samping itu membaurlah dengan mereka hingga Anda tidak tampak sebagai orang luar. Juga merupakan salah satu teknik yang sangat efektif untuk menghasilkan foto-foto manusia yang wajar dan apa adanya. Dengan membaur Anda tidak akan lagi menjadi pusat perhatian hingga bebas berkeliaran.

Foto yang baik, jarang terjadi secara kebetulan. Paling tidak merupakan hasil dari sebuah previsualisasi kreatif yang terasah dan didukung persiapan teknis yang matang.

Dengan bertambahnya pengalaman, atau jam terbang, kemampuan setiap fotografer untuk mempersiapkan diri, memvisualisasi dan menciptakan sebuah komposisi juga akan terus bertambah tajam, hingga mencapai satu titik dimana proses tersebut bergulir secara otomatis, bahkan di bawah sadar.

Pada tingkat ini, setiap fotografer akan dapat dengan mudah mengambil keputusan tentang foto yang ingin dia rekam tanpa perlu mengangkat kamera dan coba-coba berbagai macam lensa, sudut pandang dan jarak pemotretan.

Karena dengan previsualisasi, dia akan langsung tahu dari sudut mana dia akan memotret, lensa dengan titik api mana yang terbaik, kecepatan rana berapa dan diafragma mana yang tepat untuk merekam foto yang dia inginkan.

Proses yang sebenarnya makan waktu jauh lebih cepat dari menuliskan kalimat ini, sangat menentukan sukses Anda dalam menciptakan foto-foto yang kuat setiap saat. Memilih sudut pandang terbaik tidak hanya untuk menentukan penampilan visual dari foto Anda, tapi juga mencakup estetika dan pesan yang dapat disampaikan oleh foto tersebut.

Untitled

October 12th, 2008

Tandanya hidup ada pergerakan
Tandanya bergerak ada perubahan
Tandanya perubahan ada proses
Tandanya proses ada perjuangan dan pengorbanan
Jika itu semua tidak ada berarti hati kita mati

Cinta dan Logika

October 7th, 2008

SALAH

Cokelat

Usahku menepis rasa
Rindu yang mendera jiwa
Kau buat aku tersiksa

Lemahku lemah
Tak berdaya

Reff:
Salahkah bila
Ku tak henti mengharapkannya
Meskipun akhirnya
Ku tahu dia hanya membuatku terluka

Untukmu Aku…

September 23rd, 2008

Untukmu aku mau tersenyum dibalik kesedihan

Untukmu aku mau bersabar dan terus menunggu

Untukmu aku disini dan menanti

Untukmu aku sakiti yang seharusnya tak kusakiti

Untukmu aku buang jauh kebahagiaan yang seharusnya mudah kudapat

Untukmu aku rela mencintai tanpa dicintai

Untukmu aku gantungkan harapan setinggi-tingginya

Untukmu aku ikhlas merasakan sakitnya jatuh berkali-kali

Hanya Untukmu Aku………………………

Nice Day ^_^

September 21st, 2008

(20/09/08) BUKBER Alumni SMA N 47 angkatan 2005, d’Hook..

(21/09/08) BUKBER Alumni MTsN3 angkatan 2002, Pa Item..

Waktu g akan peduli siapa kamu, dia hanya akan terus berlalu tanpa mau tau apa yang kamu kerjakan sebelumnya.

Jika saja waktu dapat kuputar kembali, tak ingin rasanya melewati hari kemarin. Bersama semua yang kusayang, hilang beban pikiran, lepas semua kepenatan.

Tapi, ku tak bisa melakukan apa2, karena waktu akan terus berlari dan hari kemarin takkan pernah terulang lagi.

Tapi cerita hari kemarin, akan terus kusimpan dalam hati…

1000 Island

September 19th, 2008

(Aug, 16th 2008) RASA lelah yang ku rasakan karena harus berjalan kaki berjam-jam mengelilingi Pulau Pramuka yang menjadi pusat pemerintahan Kepulauan 1000 menguap begitu anak-anak nelayan tanpa sehelai busana dengan warna kulit gosong dan rambutnya yang kusam sedang bermain di tepi pantai yang dikelilingi hijaunya tumbuhan bakau dan didampingi perahu nelayan yang dibiarkan terdampar karena telah rusak dimakan usia memanggil memintaku untuk ikut turun bermain. Ombak hampir tak terlihat karena tertutup lebatnya bakau pencegah abrasi, angin pantai berhembus mengelus pipi sehingga terik mentari pun tak terasa panas sama sekali.